Makna dan Lirik Lagu Jengah Milik Pas Band

Makna lagu Jengah menggambarkan kejenuhan, kekesalan, dan kemuakan masyarakat terhadap para pejabat yang gemar korupsi, mengumbar janji palsu, serta t

Jengah merupakan salah satu lagu andalan Pas Band yang dirilis dalam album kelima mereka, PAS 2.0. Lagu ini dikenal luas sebagai salah satu lagu bertema kritik sosial-politik paling tajam pada pemerintah Indonesia. Sejak pertama kali dirilis pada 2003, lagu ini tak pernah pudar ketenarannya karena persoalan yang dikritiknya masih terus berulang di panggung politik Indonesia. Oleh sebab itulah, lagu ini selalu wajib dinyanyikan oleh Pas Band pada tia-tiap konsernya. Berikut merupakan makna dan lirik lagu Jengah milik Pas Band, versi koranmusik.com.

Daftar isi

Makna Lirik

Makna lagu Jengah menggambarkan kejenuhan, kekesalan, dan kemuakan masyarakat terhadap para pejabat yang gemar korupsi, mengumbar janji palsu, serta terjebak dalam perdebatan politik yang tidak kunjung usai. Semua kegilaan yang dilakukan para pejabat itu tentunya semata-mata demi meraih dan mempertahankan kekuasaan. Mereka seolah hanya mementingkan diri sendiri tanpa pernah sungguh-sungguh memikirkan nasib rakyat kecil.

Berangkat dari keresahan itulah Pas Band berusaha menangkap kegelisahan masyarakat yang menyaksikan betapa bejatnya perilaku para pejabat dan elit politik di negeri ini. Dalam sebuah wawancara yang disampaikan oleh Yuki (vokalis Pas Band) di podcast YouTube Kaks Productions, Yuki lantas mengungkapkan latar belakang terciptanya lagu ini:

"Lagu ini tercipta karena dulu kami nge-band kiblatnya memang bicaranya soal politik, karena kami suka demo waktu kuliah di UNPAD. Belajar dari sana, kami cuma menangkap kegelisahan masyarakat - Sumber: Kaks Production(9 Juli 2025)"

Melalui wawancara tersebut, Yuki seolah menggambarkan posisi rakyat yang hanya bisa menjadi saksi bisu atas kekacauan politik. Dimana kekuasaan lebih mengutamakan uang, jabatan, dan kepentingan pribadi daripada kesejahteraan publik.

Lagu ini dibuka dengan ujaran yang langsung menohok"Kita jengah dengarkan banyak alasan, kita bosan dengarkan cerita" sebuah pernyataan mentah tanpa embel-embel yang seolah mewakili suara seluruh rakyat Indonesia yang sudah muak.

Kemuakan itu pertama-tama meliputi janji tanpa bukti. Pas Band langsung mengerang secara frontal terhadap para pejabat Indonesia yang cuma pandai bicara dan rajin mengumbar janji manis soal kesejahteraan rakyat, padahal nyatanya tidak ada perubahan nyata yang pernah dirasakan masyarakat. Hal ini tergambar jelas dalam lirik "Bagaimana punya fakta? (Karena) hanya bisa bicara. (Ternyata) tak pernah ada bukti yang langsung terasa dan nyata untuk kita." Lirik ini mempertanyakan di mana buktinya, mengingat para pejabat selalu berbicara soal pembangunan, kemakmuran, dan kesejahteraan, tetapi itu semua hanyalah retorika kosong. Tidak ada satu pun yang langsung terasa dan nyata bagi rakyat kecil yang setiap hari berjuang bertahan hidup.

Kemuakan yang kedua berkaitan dengan korupsi dan upeti yang merajalela. Masyarakat pun semakin kesal karena pejabat yang awalnya membangun citra baik pada akhirnya selalu terjerembap dalam jurang korupsi, mau diberi upeti, terlibat jual-beli jabatan, dan menghalalkan segala cara demi keuntungan pribadi. Kemarahan ini tercermin dalam lirik "Kita muak (semua) lihat akibatnya. (Ternyata) tetap menjadi upeti di sana-sini, korupsi menggila lagi." Korupsi bukan lagi hal yang mengejutkan karena ia sudah menjadi "pemandangan" sehari-hari yang membuat rakyat semakin putus asa.

Kemuakan yang ketiga adalah kenyataan pahit bahwa rakyat hanya bisa menjadi saksi betapa bejatnya para pejabat yang saling berebut kekuasaan, memperpanas dan memperkeruh suasana, sambil melupakan rakyat yang seharusnya mereka layani. Hal itu tergambar dalam lirik "Kita jadi saksi (teriak) orang besar bicara, (ternyata) hanya bisa memperpanas suasana, saling rebut singgasana." Mereka sibuk bertarung memperebutkan "singgasana" kekuasaan, sementara rakyat hanya bisa menyaksikan dari pinggir, tanpa daya dan tanpa suara.

Adapun bagian paling sarkastis dari lagu ini adalah ketika Pas Band seolah melaknat sekaligus memperingatkan para pejabat akan kuasa Tuhan yang tak bisa dilawan. Peringatan itu tertuang dalam lirik "Kita jadi saksi semua, orang ingin bicara (melaknat) kebenaran. Milik-Nya, hanya milik-Nya, dan semua hanya milik-Nya." Lirik ini menjadi pengingat tegas bahwa segala kekuasaan, harta, dan jabatan di dunia ini sejatinya hanya milik Tuhan. Ini adalah peringatan bahwa para pejabat yang korup hendaknya berhati-hati karena semua manusia pada akhirnya akan mati dan harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Korupsi adalah dosa besar, dan mereka akan benar-benar dilaknat oleh Sang Pemilik kebenaran itu sendiri.

Sebagai kesimpulan, lagu Jengah adalah cermin realita politik Indonesia yang dituangkan Pas Band dengan jujur, berani, dan tanpa basa-basi. Melalui lagu ini, Pas Band menjadi suara bagi jutaan rakyat yang selama ini hanya bisa menjadi "saksi" menyaksikan pejabat saling rebut kekuasaan, korupsi merajalela, janji-janji manis yang tak pernah ditepati, dan perdebatan politik yang tidak pernah menghasilkan solusi nyata. Lagu ini membuktikan bahwa musik bukan sekadar hiburan, melainkan juga senjata kritik sosial yang mampu menembus kesadaran publik lintas generasi.

Pesan moral yang terkandung dalam lagu ini pun sangat kuat. Pertama, kekuasaan adalah amanah, bukan hak milik para pejabat dan pemimpin harus selalu ingat bahwa jabatan yang mereka emban adalah titipan rakyat dan tanggung jawab di hadapan Tuhan, bukan alat untuk memperkaya diri sendiri. Kedua, lagu ini mengajak masyarakat untuk tidak hanya diam menjadi "saksi," tetapi juga berani bersuara, mengkritik, dan menuntut perubahan nyata dari para pemimpin. Ketiga, korupsi adalah pengkhianatan sehingga setiap bentuk korupsi, upeti, dan jual-beli jabatan merupakan pengkhianatan terhadap kepercayaan rakyat sekaligus pelanggaran terhadap nilai-nilai kemanusiaan serta agama. Keempat, kebenaran adalah milik Tuhan sehingga masyarakat diminta untuk memperingatkan para pejabat bejad, kalau sebesar apa pun kekuasaan seseorang di dunia, pada akhirnya semua akan kembali kepada-Nya, dan mereka yang korup yang terus berbuat dosa harus siap mempertanggungjawabkan perbuatannya kelak.

Lirik Lagu

Intro:
(Kita jengah dengarkan banyak alasan)
(Kita bosan dengarkan cerita)

Verse 1:
Bagaimana punya fakta?
(Karena) hanya bisa bicara
(Ternyata) tak pernah ada
Bukti yang langsung terasa dan nyata untuk kita
Kita muak
(Semua) lihat akibatnya
(Ternyata) tetap menjadi
Upeti di sana-sini, korupsi menggila lagi

Chorus:
Kita pun jengah dengarkan banyak alasan
Kita bosan dengarkan cerita
Kita pun jengah dengarkan banyak alasan
Kita bosan dengarkan cerita

Verse 2:
Kita jadi saksi
(Teriak) orang besar bicara
(Ternyata) hanya bisa
Perpanas suasana, saling merebut singgasana
Kita saksi
(Semua) orang ingin bicara
(Melaknat) kebenaran
Milik-Nya, hanya milik-Nya dan semua hanya milik-Nya

Chorus:
Kita pun jengah dengarkan banyak alasan
Kita bosan dengarkan cerita
Kita pun jengah dengarkan banyak alasan
Kita bosan dengarkan cerita

Verse 3:
Kita pun jadi saksi
(Teriak) orang besar bicara
(Ternyata) hanya bisa
Perkeruh suasana, saling jatuh singgasana
Kita saksi
(Semua) dari akibat ini
(Ternyata) membingungkan
Terombang-ambing berita, penguasa punya cerita

Chorus:
Kita pun jengah dengarkan banyak alasan
Kita bosan dengarkan cerita
Kita pun jengah dengarkan banyak alasan
Kita bosan dengarkan cerita
Kita pun jengah dengarkan banyak alasan
Kita bosan dengarkan cerita

Musik dan Video Klip

Informasi lirik

Judul Lagu: Jengah
Penyanyi: Pas Band
Penulis: Bengbeng, Yukie, Tresnoize
Dirilis: 13 Mei 2003
Album: PAS 2.0 (2003)
Label: PT Aquarius Musikindo
Genre: Alternative Rock

Baca berita dan artikel menarik lain koranmusik.com, di Google News