Mari kita putar waktu sejenak dan kembali ke tahun 1997. Saat itu dunia masih terasa jauh lebih sederhana. Komputer masih berupa kotak besar yang memenuhi sudut meja. Suara modem dial-up menjadi gerbang menuju internet yang lambat dan terbatas. Telepon genggam belum menjadi benda yang terus kita genggam sepanjang hari, sementara media sosial bahkan belum lahir. Hidup masih berjalan di dunia yang sebagian besar analog.
Di tengah zaman seperti itulah Radiohead merilis OK Computer
Hampir tiga puluh tahun telah berlalu sejak album itu pertama kali diperdengarkan kepada dunia. Namun anehnya, setiap kali diputar hari ini, OK Computer tidak terdengar seperti karya dari tahun 1997. Ia justru terdengar seperti album yang ditulis untuk menjelaskan kehidupan kita sekarang.
Di dalamnya ada manusia yang perlahan kehilangan dirinya di tengah kemajuan teknologi. Ada rutinitas yang membuat hidup terasa mekanis. Ada masyarakat yang semakin terobsesi pada produktivitas, ambisi, dan validasi. Ada kecemasan, keterasingan, serta hubungan manusia dengan komputer yang perlahan berubah dari sekadar alat menjadi sesuatu yang mengendalikan hidup kita. Semua kegelisahan itu terdengar sangat akrab bagi telinga kita hari ini.
Yang membuatnya luar biasa adalah satu hal
Semua itu ditulis jauh sebelum media sosial lahir. Jauh sebelum algoritma mengatur apa yang kita lihat setiap hari. Jauh sebelum telepon pintar menjadi perpanjangan tangan manusia. Dan jauh sebelum kecerdasan buatan mulai mengambil alih berbagai pekerjaan yang dulu hanya bisa dilakukan oleh manusia.
Inilah alasan mengapa OK Computer sering terasa seperti sebuah ramalan. Namun sebenarnya Radiohead tidak sedang mencoba meramal masa depan. Mereka hanya sangat jeli membaca arah zaman.
Thom Yorke dan rekan-rekannya melihat sesuatu yang pada saat itu mungkin belum disadari banyak orang. Mereka melihat bahwa perkembangan teknologi bukan sekadar menghadirkan perangkat yang lebih canggih. Ia juga perlahan mengubah cara manusia bekerja, berkomunikasi, memandang dirinya sendiri, bahkan menjalani hidup sehari-hari. Yang berubah bukan hanya mesin. Manusianya pun ikut berubah.
Kepekaan itulah yang membuat OK Computer mampu melampaui zamannya
Menariknya, kemampuan Radiohead membaca perubahan tersebut lahir bersamaan dengan perubahan besar yang sedang mereka alami sendiri. Setelah kesuksesan besar album The Bends (1995), mereka sebenarnya bisa saja mengulang formula yang sama. Jalan itu jauh lebih aman dan hampir pasti kembali sukses secara komersial.
Tetapi Radiohead justru memilih meninggalkannya. Mereka mengasingkan diri ke St. Catherine's Court dan mulai membangun bahasa musik yang berbeda. Mereka bereksperimen dengan penyuntingan digital, tekstur elektronik, serta pendekatan produksi yang banyak dipengaruhi oleh Bitches Brew karya Miles Davis. Perubahan itu bukan dilakukan demi terdengar modern. Mereka membutuhkan bahasa musik baru karena merasa bahasa lama tidak lagi cukup untuk menggambarkan dunia yang sedang berubah di depan mata mereka.
Dari sinilah OK Computer lahir
Album ini bukan sekadar kumpulan dua belas lagu, melainkan sebuah perjalanan tentang manusia yang memasuki abad baru dengan segala kegelisahannya. Setiap lagu adalah satu keping cerita yang saling menyambung. Dari "Airbag", "Paranoid Android", "Subterranean Homesick Alien", hingga "The Tourist", semuanya menyusun potret tentang manusia yang perlahan kehilangan kendali atas dunia yang justru mereka ciptakan sendiri.
Perjalanan itu dimulai melalui "Airbag".
Sepintas lagu ini hanya bercerita tentang seseorang yang selamat dari kecelakaan mobil. Namun sejak awal Radiohead sudah memperkenalkan paradoks yang menjadi fondasi seluruh album. Teknologi adalah sesuatu yang hampir merenggut nyawa sang tokoh, tetapi teknologi pula yang menyelamatkannya. Sejak saat itu hubungan manusia dengan mesin tidak lagi sesederhana siapa mengendalikan siapa. Keduanya saling bergantung, sekaligus saling mengancam.
Ketika Thom Yorke menyanyikan bahwa dirinya "lahir kembali" dalam sebuah liriknya, kalimat itu tidak hanya menggambarkan seseorang yang lolos dari maut. Ia juga menjadi simbol lahirnya sebuah dunia baru yaitu dunia ketika manusia mulai menyerahkan semakin banyak kendali kepada teknologi yang mereka ciptakan sendiri.
Sebagai penutup, ebenarnya Album ini tidak benar-benar meramalkan masa depan. Ia hanya berhasil membaca ke mana arah manusia sedang berjalan. Radiohead melihat jalan itu ketika sebagian besar dari kita masih sibuk menikmati pemandangannya. Mereka menyadari bahwa kemajuan teknologi tidak akan selalu membuat manusia semakin bebas. Sebaliknya, ia juga berpotensi membuat kita semakin sibuk, semakin terasing, dan semakin sulit mengenali diri sendiri. Dan mungkin di situlah kejeniusan terbesar di album OK Computer.
Karena itulah, hampir tiga dekade kemudian, OK Computer tidak terdengar seperti album nostalgia dari tahun 1997. Ia terdengar seperti cermin yang masih memantulkan wajah kita hari ini. Dan.. perjalanan menuju cermin itu baru saja dimulai.