Disebuah Persimpangan Jalan: Menyelami Makna Lagu Roads Untraveled Milik Linkin Park

Kalau tidak lupa mungkin beberapa tahun lalu, mobil saya berhenti tepat di sebuah persimpangan di kawasan hutan tanaman industri. Pohon-pohon yang tumbuh di sana menjulang tinggi sehingga pucuk-pucuknya saling bertemu di atas, membentuk lorong hijau yang membuat perjalanan terasa begitu tenang punjuga sepi.

Di depan saya ada dua jalan yang sama-sama mengarah ke rute yang berbeda. Saya mengenal kedua jalan itu, tetapi justru itulah yang membuat saya bingung, karena saya tidak pernah tahu kehidupan seperti apa yang menunggu di ujungnya. Tak ada papan petunjuk yang menjanjikan kebahagiaan atau kesedihan. Dan.. tidak ada pula orang yang lewat untuk saya tanyai.

Saya mematikan mesin sejenak. Mata saya menatap kedua jalan itu cukup lama berharap jalan mana pun yang akhirnya saya pilih akan berujung indah pada waktunya. Namun, hidup tentu tidak pernah memberi jawaban semudah itu bukan? Dan pada akhirnya, saya harus tetap memilih satu jalan. Bukan karena saya yakin jalan itu akan lebih mudah, bukan juga karena saya tahu pasti apa yang ada di ujungnya. Sebab, tidak ada satu pun jalan yang datang dengan jaminan kebahagiaan. Setiap pilihan selalu sepaket dengan risikonya.

Jadi, ketika hidup memaksa saya berdiri di persimpangan yang sama-sama sulit, saya tahu ke mana kemudi ini harus dibelokkan.

Ke arah jalan yang paling saya sukai

Begitulah yang selalu saya lakukan, dan mungkin jalanan itu akan penuh tanjakan yang menguras tenaga, hamparan kerikil yang memperlambat laju, atau tikungan tajam yang sesekali membuat saya ingin putar balik. Tapi, bukankah setiap pilihan memang menuntut keberanian untuk menanggung konsekuensinya? Lagipula kita tidak pernah punya kesempatan untuk menjalani dua kehidupan sekaligus, lalu membandingkan mana yang lebih baik.

Begitu pedal gas saya injak, jalan yang satunya langsung berubah menjadi sesuatu yang tidak akan pernah saya kenal. Ia bukan lagi pilihan, melainkan kemungkinan. Dan kemungkinan adalah tempat yang paling sering melahirkan penyesalan. Semakin jauh kita melangkah, semakin sering muncul pertanyaan, "Apakah tadi seharusnya saya memilih jalan yang satunya?"

Barangkali, di situlah lagu Roads Untraveled menemukan maknanya

Lagu dari album Living Things (2012) ini memang sering dikaitkan dengan kehilangan. Padahal, jika diresapi lebih dalam, lagu ini bercerita tentang hal yang sangat dekat dengan keseharian kita, yaitu kecenderungan manusia untuk terus menoleh ke belakang. Kita sering membayangkan kehidupan yang tidak pernah sempat kita jalani, lalu diam-diam bertanya apakah hidup akan menjadi lebih baik jika saat itu kita mengambil keputusan yang berbeda.

Mike Shinoda pernah bercerita dalam salah satu konsernya di Moskow bahwa lagu ini awalnya ditulis untuk seorang sahabat yang hubungan asmaranya kandas. Ia ingin menghibur temannya yang terus menyalahkan diri sendiri karena merasa telah salah memilih jalan. Namun, bertahun-tahun kemudian, setelah Chester Bennington tiada, makna lagu itu meluas. Lirik yang awalnya ditulis untuk menemani patah hati mendadak terdengar seperti ajakan untuk berdamai dengan kehilangan yang tak mungkin diputar kembali.

Pergeseran makna ini membuat Roads Untraveled terasa semakin relevan bagi siapa saja. Sebab, cepat atau lambat, kita semua akan tiba di persimpangan hidup masing-masing.

Memilih satu pekerjaan berarti melepas pekerjaan lain. Memilih satu orang berarti merelakan kemungkinan bersama orang lain. Memilih satu mimpi berarti mengorbankan mimpi yang lain. Setiap keputusan selalu melahirkan satu kehidupan nyata, sekaligus mematikan kehidupan lain yang akhirnya hanya tersisa sebagai bayangan di kepala kita.

Linkin Park sadar betul bahwa mereka tidak sedang mengajak kita mencari tahu jalan mana yang lebih baik, melainkan mengajak kita menerima kenyataan bahwa kita tidak akan pernah tahu bagaimana jadinya hidup kita jika dulu memilih arah yang berbeda.

Karena itulah lirik pembukanya terasa begitu sederhana, sekaligus mendalam "Weep not for roads untraveled, weep not for sights unseen (Jangan menangisi jalan yang tidak pernah kamu lalui. Jangan menangisi pemandangan yang tidak pernah kamu lihat)." Lewat kalimat ini, Linkin Park memahami bahwa menyesal itu manusiawi. Mereka hanya mengingatkan agar penyesalan jangan sampai dijadikan tempat tinggal. Sebab, kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang menunggu di jalan yang tidak kita pilih. Bisa jadi lebih mudah, tetapi bisa jadi jauh lebih berat. Kita hanya menganggapnya lebih baik semata-mata karena kita tidak pernah menjalaninya.

Pesan itu berlanjut di bait berikutnya. "Give up your heart left broken, and let that mistake pass on. 'Cause the love that you lost wasn't worth what it cost." Lirik ini mengajak kita berhenti menghukum diri sendiri atas keputusan di masa lalu. Mengingatkan bahwa itulah jalan yang telah kita pilih, sekalipun pada akhirnya membuat kita hancur.

Menjelang akhir lagu, suasananya berubah menjadi jauh lebih hangat. "May your love never end. And if you need a friend, there's a seat here alongside me." Lirik ini menjadi pengingat bahwa seterjal apa pun jalan yang kita pilih, jangan sampai ia merenggut kemampuan kita untuk mencintai. Kerikil di jalan memang bisa meretakkan hati, tetapi bukan berarti cinta di dalamnya harus ikut padam.

Sepanjang alunan nadanya, lagu ini seolah mengingatkan pendengarnya bahwa hidup selalu berjalan ke depan, sementara penyesalan selalu menarik kita untuk melihat ke belakang.

Namun pada akhirnya, hidup bukan tentang menemukan jalan yang paling sempurna. Hidup adalah tentang mencintai jalan yang telah kita pilih, sesulit apa pun perjalanan yang harus kita tempuh

Begitulah lagu road untraveled menemani perjalanan itu. Dibalik genggam kemudi mobil ini saya hanya tidak ingin menghabiskan sisa perjalanan dengan terus menoleh, menatap kaca spion.

Karena sekali lagi, jalan yang telah saya pilih adalah jalan yang paling saya sukai, dan mungkin juga saya cintai atau saya idam-idamkan sejak dari dulu. Jikapun jalanan ini ternyata terlalu menyakitkan untuk dilalui, maka itulah konsekuensi dari pilihan yang sudah dibuat.

Dan juga... saya mungkin tidak akan pernah tahu seperti apa ujung dari jalan yang tidak saya pilih. Namun saya percaya, kebahagiaan tidak lahir dari memilih jalan mana yang paling sempurna, melainkan dari mencintai jalan yang sudah kita putuskan untuk dijalani. Begitulah adanya, sejak awal memilih, jalan itu sebenarnya memang tidak pernah dimaksudkan untuk diputar balik.

Posting Komentar